Kamis, 15 Januari 2009

"Orang Yang Layak Terbuang"

Wajah diam sangar menerawang
Menyingkap tabir cakrawala
Tersendat kaku gemulai lemah
Tak terbatas rasa jiwa tersila
Apakah kau tau perasaan itu?
Hancur, remuk dan luluh lantak
Serasa hati tersayat belati
Serasa jasad terbakar amarah
Tapi pada siapa?
Aku hanya tertunduk dan kembali menerawang

Kutatap sebuah poster wajah penguasa
Dasi panjang bergelantungan
Badan tegap wajah bersinar
Senyum terlihat paras pendusta
Kembali ku kupandangi diriku
Jauh........................dari tingkatan
kutarik poster itu
Menggantikan dasi panjang dengan dasi kupu-kupu
Mencoreng parasnya dengan bulu bulu
Aku tertawa............................................
Ha ha ha ha ha ha ha
Kulihat persis seperti preman banci

Aku senang bisa menggantikan dirinya dengan yang asli
Karena dunia tidak suka dengan imitasi
Aku terbentuk begini karena dia
Dan aku bahagia ada orang seperti aku
Pecundang dunia.

“Bocah Yang Belajar Dari Kehidupan”

Jauh tertinggal ,tenggelam dan terhampar disana
Raut wajah mungil, kosong dan hampa
Menanti induk di ujung jalan setiap malam
Tak kunjung tiba hati merana
Terpejam mata terhanyut lara
Tenggelam dalam mimpi sesaat
Terjaga raga tak berujud
Hanya senyum tipis penghantar hidup
Tapi dengan setitik harapan
Menantang buana kemudian

Mentari terbit di ufuk timur
Sembari tersentak jiwa terpanggil
Terayun langkah untuk sejengkal perut
Untuk pelanjut hidup
Tak pernah teriris hati terpaut
Seorang bocah tiada berinduk
Tetap tegar menantang dunia
Kokoh tiada bergeming

Tak pernah terhiraukan onak yang menusuk
Tak tergubriskan kaki yang tersandung
Tak terhapuskan linang airmata rindu
Kesepian melanda jiwa nestapa
Tapi tetap, tersenyum walau dikulum

Telah terlatih jiwa kesabaran
Menanggung nasib badan seorang
Tak terbiasa tangan terbuka memelas
Usaha terus berkelanjutan

Saat senja telah tiba
Kesepian meradang dalam
Hanyut terbawa di sela impi nan hampa
Walau harap tak pernah tergenggam
Walau semu dating menjelma
Itu adalah sebuah penantian
Tetaplah hadir walau hanya impian

"Puisi Buat Bunda"

BUNDA…………………………
SAAT KULIHAT JASADMU TERBUJUR KAKU
SAAT KULIHAT SENYUM TIPISMU NAN BISU
DAN SAAT ITU KULIHAT BAJU PUTIHMU YANG SUCI TANPA NODA
AKU HANYA BISA MENATAPMU, MEMANDANGMU DAN MENANGIS

KUTAHAN BIBIRKU TUK BERUJAR
KUSEKA MATAKU TUK BERLINANG
KU TEGAKKAN RAGAKU TUK BERDIRI
TAPI AKU TAK BISA……………….


BUNDA………………………………..
KUINGAT DIRIMU NAN LALU
KETIKA AKU TERPEROSOK PADA JURANG YANG TERJAL
SAAT ITU AKU MASUK PADA LUMPUR YANG DALAM
DAN SAAT ITU AKU SUDAH JAUH DARI MEREKA MEREKA
DAN SAAT ITU KAU DATANG……….BUNDA


KAU LANTUNKAN KATA KATA YANG INDAH
KAU NYANYIKAN SYAIR SYAIR YANG MERDU
HINGGA AKU SEMAKIN NYAMAN DAN MEGAH SEKARANG
KAU KEMBALIKAN AKU PADA TEMPAT YANG TINGGI
HINGGA AKU LUPA AKAN DIRIKU YANG KELAM


BUNDA………KAU BAGAIKAN PERI DIHATIKU
TAK URUNG NIATKU TUK MEMELUKMU
WALAU KU TAHU TUK SEKALI INI ,DAN TAK DAPAT BERULANG LAGI
AKU MALU BUNDA………
TAK BANYAK WAKTU TERSITA UNTUKMU
TAK BANYAK BUDI KUTEBARKAN PADAMU
TAPI AKU HANYA BISA BERKATA
BUNDA AKU TIDAK AKAN PERNAH SEPERTI YANG DULU


BUAH KARYA: DIAN DAMAYANTI LUBIS
TEBING TINGGI/ 10 JANUARI 2008

"Aku Tidak Mau Anakku Mati Kelaparan"

KUTATAP ANAKKU YANG KURUS DAN LAYU
KUPANDANGI MATANYA PENUH DENGAN PENANTIAN
DAN SEOLAH AKU BERKATA PADANYA
MAAFKAN AKU NAK, BELUM IBU DAPAT SUSU UNTUKMU HARI INI

SUDAH KU TANTANG TERIK MATAHARI SIANG INI
SUDAHKU LAWAN DEBU DEBU USANG YANG SESAK INI
SUDAHKU SAPU JALAN RAYA DENGAN LANGKAH KAKI KU INI
TAPI TETAP SAJA BELUM KU DAPAT SUSU UNTUKMU HARI INI

AKU INGIN BERTERIAK………….
AH………………………………
………………………………………..
SAAT ITU KULIHAT SEORANG IBU
KUTARIK TASNYA DAN AKU BERLARI
BERLARI ………..DAN TERUS BERLARI
DAN,….. AKU TERSUNGKUR, TERJATUH
DAN………..TERTANGKAP
SEKARANG AKU BERADA DIBALIK JERUJI BESI
AKU HANYA BISA MENANGIS DAN AKU TIDAK TAHU
APA YANG TERJADI PADA ANAKKU
DAN TETAP SAJA BELUM KU DAPAT SUSU UNTUKMU HARI INI


BUAH KARYA: DIAN DAMAYANTI LUBIS
TEBING TINGGI/10 JANUARI 2009

"Sebuah Surat Buat Yang Ingkar"

Bila tiba masamu,
Kau hadir tuk merayu
Hingga kaki jatuh bersimpuh
Tangan tak jemu mengadah
Akhir nya aku tak tega
Untuk selalu memilihmu mu


Bila asa telah sampai digenggamanmu
Kau larut dalam janjimu
Terabaikan ikrarmu
Hingga terpantul cerminan jiwa didirimu
Dasar…………….penipu

Telah tercoreng sebuah nama
Telah terpenggal sebait sumpah
Hilang suara sendat rengekanmu
Tinggallah ………..kami
Yang tinggal puing puing harapan
Tiada………. Bersisa

Kami yang kini termangu
siap menerjang kemunafikan
Takkan pernah kembali seperti dulu
Tegakkan raga, ayunkan langkah
Takkan tepilih orang sepertimu